oleh

Penawar Luka ” Janji Busuk “

celahkotaNEWS.com || DUMAI – Tak sedik mereka yang ingin duduk di puncak,di kursi empuk ruangan dingin dengan segala fasilitas yang sudah tersedia semuanya tinggal beres.

Namun,untuk mencapai kepuncak tersebut tidaklah mudah,karena bukan hanya mereka yang menginginkan masih banyak mereka-mereka yang lain,alhasil perlombaan pun terjadi.

Nah disinilah bagi mereka yang ingin mengapainya dengan segala cara dan upaya merayu masyarakat dengan segala program dan janji manis lain,seng penting kepilih soal ditepati atau tidak itu urusan belakangan yang penting duduk dulu.

Ketika kita lemah menghadapinya,menutut segala janji mereka yang tak kunjung terpenuhi,bahkan urut leher sudah sebesar jempol menyuarakan pun di anggap angin lalu”seng sabar” maka air mata dan tangisan adalah salah satu yang menjadi pelipur lara. Sementara bagi orang-orang yang berpikiran positif, rasa sakit hati dan kecewa dari janji busuk dianggap sebagai pelajaran hidup untuk bisa menjadi pelajaran,sebagai penentu pilhan untuk kedepan.

Sesungguhnya mungkin kita tidak pernah menyesal memilihnyac. Yang justru kita sesali tentunya janji yang terucap dari bibir hitam mereka yang tak bergincu.Pilu datang dari kesedihan,kesedihan datang dari kekecewaan. kekecewaan datang dari ketidakpuasan,ketidakpuasan datang dari janji yang mereka sampaikan terlalu tinggi.

Kita mungkin seperti mentari dan bulan, cahayanya sama sama indah menyinari dan saling melengkapi, namun sayangnya tak bisa seiring sejalan.

Pada masa masa seperti ini pendekatan atau PDKT biasanya banyak pasangan saling mengumbar janji manis. Maklum, obral janji manis bisa menjadi trik paling mudah bikin masyarakat tertarik dengan obral – obral barang KW.

Sayangnya banyak yang suka mengumbar janji manis, tapi hanya di mulut tanpa  ada bukti nyata. Malah nggak jarang janji manis itu berujung pahit alias meninggalkan luka, demi duduk dikursi yang bergoyang.

Tak heran baginkita,mereka yang ingin duduk di kursi empuk meski sudah lapuk dengan segala terikan dan trikyang mengoda.kau jeritkan membawa damai,kau berjanji bahwa esok akan lebih baik dari hari ini,Kau bilang akannada kemakmuran jika engkau yang duduk disana,kau bilang sejahtera jika kau yang berkuasa esoknya.?

Penat “bro” mendengar ocehanmu
sejuta kata kau ucap belum tentu satu kau tepati.Wahai para calon pemimpin,yan ingin bertenger dikursi empuk mau dibawa ke mana negeriku ini.

Tanpa disadari,janji yang terlontar bagaikan kutu kasur yang membuat gatal dan geregetan,jangan termakan janji,jangan membuat janji.

Masyarkat cerdas,masyarakat pintar bisa memilah dan memilih dengan naluri hati tanpa harus terbuai dengan janji,”Majulah kota ku,majulan negeri ku ” Dumai Kotaku,Kotamu,Kota Kita.(ckn)

Penulis : Khairul Iwan

Sumber : Diangkat dari berbagai sumber

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed