Berita Terbaru Celah Kota Hukrim

Puluhan Anak di Riau Korban Eksploitasi Bisnis Pelacuran

11-05-03-mucon

CELAHKOTANEWS.COM||PEKANBARU – Tertangkapnya empat mucikari online yang menyediakan gadis teramat belia sebagai patner seks oleh Direskrimum Polda Riau pekan lalu menambah daftar panjang kegiatan pelacuran di Riau yang menjadikan anak di bawah umur sebagai komoditas. Sebelumnya, Polresta Pekanbaru juga menangani kasus serupa dengan beberapa gadis di bawah 17 tahun sebagai obyek.

Dalam kasus prostitusi online yang ditangani Polda Riau, mucikari menawarkan 6 gadis belia berusia 14-18 tahun. Jumlah ini tergolong sedikit dibandingkan dengan bisnis haram serupa yang ditangani Dionaldo alias Dion, mucikari online yang pada 17 Februari 2016 hanya divonis 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Pekanbaru. Dion mengklaim memiliki lebih seratus wanita yang dijajakan sebagai patner seks berbayar. Banyak di antaranya yang usianya belasan tahun.

Sementara KPAI Riau ternyata juga menangani kasus prostitusi anak yang tak masuk ke ranah hukum. Umumnya hasil laporan dari orang tua yang minta bantuan agar anaknya bisa menjalani program rehabilitasi.

“Ada lima anak di bawah umur yang menjalani program rehabilitasi kami dan mereka tidak termasuk yang kasusnya diproses polisi,” ujar Ketua KPAI Riau Esther Yuliani Manurung saat berbincang dengan wartawan belum lama ini.

Berangkat dari data di atas sudah didapat kepastian jumlah anak-anak di Riau yang jadi obyek prostitusi tidaklah sedikit. Cukup banyak. Sampai puluhan. Padahal, dalam dunia prostitusi berlaku fenomena gunung es. Di mana data yang nampak biasanya semacam contoh. Hanya bagian kecil dari fakta sebenarnya yang jauh lebih besar.

“Sangat mungkin jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar. Karena data yang ada sekarang hanya yang di Pekanbaru, padahal kita juga menerima laporan ada kasus serupa di kota selain Pekanbaru di Riau,” tuturnya.

Menurut Esther, para mucikari sangat sabar melakukan pendekatan pada calon korban. Mereka melalui proses pendekatan yang cukup panjang. Calon korban tak langsung ditawari menjadi patner seks berbayar, tetapi terlebih dahulu didekati sebagai teman.

“Mereka (mucikari) sangat sabar dalam melakukan pendekatan pada anak-anak calon korban. Setelah mereka merasa nyaman baru ditawari. Itu pun berawal dengan sekedar menemani minum. Secara berlahan-lahan anak-anak calon korban digiring masuk perangkap,” tuturnya.(rt/net)

Keterangan foto saat Direskrimum Polda Riau mengeskpos penangkapan 4 mucikari online yang menawarkan 6 gadis teramat belia berusia di bawah 18 tahun.

Sumber: RIAUTERKINI

Related posts

Kemilau Negeri Tetangga Dari Pantai Nongsa 

Celahkotanews

Polisi Amankan Puluhan Paket Sabu Beserta Pemilik

Celahkotanews

Gerbang Kantor Walikota Jadi Tempat Mabuk – Mabukan

Celahkotanews

Leave a Comment