Celahkotanews.com || Dumai – Bawang merah merupakan bahan bumbu pokok kebutuhan dalam rumah tangga. Bawang merah yang juga dalam bahasa latin nya ini dikenal Allium cepa var ascalonicum merupakan sejenis tanaman yang menjadi bumbu berbagai masakan di dunia bahkan menjadi campuran bumbu nomor wahid di negara Indonesia, berasal dari Iran,Pakistan dan pegunungan-pegunungan di sebelah utaranya, kemudian dibudidayakan di daerah dingin, sub-tropis maupun tropis. Umbi bawang dapat dimakan mentah, untuk bumbu masak, acar, obat tradisional, kulit umbinya dapat dijadikan zat pewarna dan daunnya dapat pula digunakan untuk campuran sayur.
Karna sangat menjadi kebutuhan si merah bahenol ini(red),membuat sejumlah pengusaha dibidang impor dikota Dumai mengambil peluang bisnis dari situasi itu. Dengan tidak memperhatikan kelengkapan terkait surt menyurat tentang izin impor yang telah diatur dalam peraturan Mentri Perdagangan Republik Indonesia No 71/M-DAG/per/9/2015 seperti yang termaktub dalam butiran 27 tentang peraturan Mentri pertanian nomor 43/permentan/OT.140/6/2012. Mereka para pemain impor bawang ilegal ini melakukan koordinasi tingkat tinggi sehingga dengan leluasa meraup keuntungan dari situasi kebutuhan masyarakat dengan mengenyampingkan peraturan-peratuarn pemerintah bahkan penegak hukum yang semestinya wajib dipatuhi.
Kordinasi tingkat tinggi dari para Mafia penyeludup si Bahenol Merah(red) ini, dari hasil pantawan celahkotanews.com dilapangan sebenarnya sejak lama telah menjadi perbincangan umum ditengah-tengah masyarakat. Salah seorang narasumber kami D, menjelaskan permaina penyeludupan bawang dikota Dumai ini tidak akan pernah bisa berakhir karna masing-masing mereka pemain telah ada pegangan masing-masing artinya kordinasi tingkat tinggi.
“Ditangkap satu kapal yang lolos itu bisa tujuh hingga sepuluh kapal.Coba kita simak setiap penangkapan yang dilakukan oleh penegak hukum tidak pernah menyentuh lansung ke pelaku utama nya, bahkan sering sekali yang kita dengar tangkapan dengan status kapal tidak bertuan, mustahil, ada apa ini?”ujar D dengan wajah kesal.
Namun dibalik peristiwa permaina penyelundupan Bawang merah ilegal ini ternyata menyisakan kesedihan tersendiri bagi warga Dumai. Kenapa tidak setiap dilakukanya penangkapan penyeludupan bawang merah, masyarakat seperti dibuat kesal dengan rangkaian proses akhir berupa pemusnahan barang bukti. Hampir disetiap pemusnahan barang bukti bawang merah yang dilakukan oleh instansi terkait, baik Karantina,Bea cukai,Polisi, masyarakat menyaksikan sambil menelan air liur mereka berharap bahan bumbu pokok itu kiranya lebih bermanfaat jika dibagikan karna mereka sangat membutuhkan.
Samin salah seorang warga yang berada di lokasi biasa yang dijadikan tempat pemusnahan barang bukti bawang merah mengatakan kepada celahkotanews.com Kami masyarakat sebenarnya sangat membutuhkan bawang merah itu dengan kondisi ekonomi kami saat ini tidak mampu untuk membeli bawang merah yang dijual dipasar,karena harganya giala pak,apa lagi jika sering ada penangkapan bawang merah ilegal ini itu berpengaruh lagi dengan harga bawang dipasar sehingga melonjak. Kalau macam ini tak sanggup kami nak makan bawang merah lagi,yang buat kami sedih tu disaat kami tak sanggup beli bawang, didepan mata kepala kami saksikan bawang merah itu dihenyak-henyak eskapator dan ditimbun. Ngapa lah Pemerintah tak kasi ajo sama kami ni. “ujar Samin sambil meneteskan air mata.
Lagi-lagi kami dari wartawan Lipsus celahkotanews.com menemukan sisi lain yang membuat siapa saja diantara kita menjadi miris melihatnya. Hal ini terjadi sekitar 30 Ton bawang merah ilegal asal Malaysia yang kembali diamankan oleh Pihak Bea dan Cukai Dumai. Jumat (02/12/2016). KPPBC Dumai kembali mengagalkan penyelundupan bawang merah ilegal asal Malaysia. Penangkapan aksi aktifitas gelap itu terjadi di perairan Kabupaten Bengkalis, pada Jumat (02/12) pagi kemarin. Bawang itu dengan mengunakan kapal motor tampa nama.
Pantauan celahkotanews.com di dermaga A Pelindo Dumai, kapal muatan bawang tersebut bersandar di pelabuhan dan dikawal ketat oleh petugas BC. Diperkirakan sementara, tiga puluh ribu kampit atau setara dengan 30 ton bawang tersebut dipindahkan dari kapal motor ke sebuah truk colt disel dengan mengunakan alat berat jenis Crane dan dikerjakan oleh para buruh angkutan pelabuhan, Jumat (02/12) petang.
Pada peristiwa pemindahan barang bukti bawang merah dari kapal motor tanpa nama dan pemilik ke mobil cont disel ini lah pemandangan memilukan terjadi. Sejumlah pria paruh baya dengan menggenggam kantong plastik dengan berbagai warna dengan sedikit bersikut-sikutan atar satu dengan lainya berusaha memperebutkan butiran-butiran bawang merah yang terjatuh dari kampit nya. Mereka seperti mendapatkan sebuah anugrah karna dapat menikmati sisa butiran bawang yang terjatuh bahkan mungkin saja sudah tercemari, karena melihat kondisi di pinggiran pelabuhan Dermaga A Pelindo Dumai itu.
Wanto salah seorang pemungut bawang saat ditanyai kepada kami tmengatakan dengan singkat.”kalau tidak macam ini bang kami tak makan bawang, nak kita harap kan yang dalam karung tu, kepunan(red) lah bang, cacing juga yang dapat tu bang. Dapat yang macan ini istri dirumah sudah bersyukur bang.” kata Wanto sembari kembali berebut bawang yang berserakan.
Aneh tapi nyata, semakin ditindak semakin jadi, salah siapa?, lantas apa solusi nya.
Mungkin,selagi koordinasi tingkat tinggi masih terjadi,selama itulah tersangka yang merupakan Mafia utama penyelundupan bawang merah dan solusi persoalan ini tidak bisa ditemui.(ckn/tnc)










2 komentar