CelahkotaNEWS.com – Timnas futsal Indonesia memang gagal merengkuh gelar juara Piala Asia Futsal 2026. Namun sejarah, tentu saja, tidak runtuh karenanya. Ia tetap bersemi—memilih menunggu pada waktu yang tepat.
Dalam laga final yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu malam, Indonesia harus mengakui keunggulan Iran melalui mekanisme paling kejam dalam sepak bola: adu tendangan penalti. Sebuah prosedur yang mereduksi kerja kolektif selama 50 menit menjadi urusan psikologis dua telapak kaki.
Iran menang 5–4 dalam tos-tosan yang mengguncang saraf, setelah sebelumnya kedua tim bermain imbang 5–5 dalam pertandingan yang terasa absurd sekaligus indah—melelahkan, dramatis, dan penuh ketegangan hingga detik terakhir.
Selama 50 menit, penonton menyaksikan Indonesia berkali-kali unggul, dan Iran berkali-kali menyamakan kedudukan. Seolah laga ini ditulis oleh seorang filsuf pencinta paradoks: setiap keunggulan harus diuji, setiap harapan harus dikoreksi.
Israr Megantara mencetak hat-trick. Habiebie menepis penalti. Indonesia memimpin 2–1, 3–1, 4–3, bahkan 5–4 di babak tambahan. Namun Iran—yang telah 14 kali menjuarai turnamen ini—menolak tunduk pada narasi “tuan rumah siap mencetak sejarah”. Mereka memilih narasi lain: pengalaman selalu punya solusi terakhir.
Sepanjang pertandingan, Indonesia bermain dengan kesadaran bahwa mereka memang pantas berada di final. Tim yang dilatih Hector Souto, pelatih asal Spanyol, tampil tanpa gugup dan tanpa ragu pada ambisi menjadi juara di depan publik sendiri.
Indonesia bermain cepat dan berani, meski sesekali masih ceroboh. Gol-gol mengalir seperti gagasan segar yang belum takut disensor. Iran, sebaliknya, bermain seperti arsip berjalan: rapi, sabar, dan tahu bahwa waktu kerap berpihak pada mereka yang tidak panik.
Ketika skor 5–5 bertahan hingga perpanjangan waktu usai, adu penalti terasa seperti epilog yang tidak adil, tapi sah. Dua penendang Indonesia gagal. Iran menang dan kembali mempercantik statistik mereka.
Namun ada satu hal yang patut dicatat: Indonesia tidak kalah karena lebih lemah, melainkan karena belum cukup terbiasa menang.
Mengomentari laga tersebut, Hector Souto memilih diksi yang mungkin terdengar asing bagi telinga kita. Ia mengaku bangga, tapi tidak mabuk. Ia memuji mental para pemain, namun juga mengakui masih adanya jarak kualitas dengan Iran dan Jepang.
Bahkan, ia mengatakan bahwa jika turnamen ini diulang dua pekan kemudian, Indonesia mungkin tidak akan kembali mencapai final. Pernyataan yang terdengar pesimistis, tetapi sejatinya adalah kejujuran metodologis—cara berpikir seorang pelatih yang memahami proses, bukan sekadar hasil.
Dalam konteks olahraga Indonesia, pernyataan Souto terasa penting. Ia mengingatkan bahwa kerendahan hati adalah kejernihan melihat diri sendiri apa adanya. Timnas futsal Indonesia malam itu melihat dirinya dengan cukup jujur: cukup kuat untuk menantang raja Asia, tetapi belum cukup matang untuk merebut mahkotanya.
Meski gagal menjadi juara, tak bisa dipungkiri Souto telah membawa timnya menuai kesuksesan. Di sinilah satire bekerja. Saat futsal—cabang olahraga yang minim sorotan dan intrik—mampu bertarung hingga detik terakhir melawan kekuatan terbesar Asia, sepak bola lapangan Indonesia justru masih terjebak pada urusan administratif yang durasinya sering kali lebih panjang dari pertandingan itu sendiri.
Futsal Indonesia kalah lewat adu penalti. Sepak bola lapangan Indonesia, terlalu sering, kalah bahkan sebelum kick off—oleh konflik, ekspektasi kosong, dan obsesi pada hasil instan lewat jalan pintas naturalisasi.
Kekalahan di final Piala Asia Futsal 2026 memang menyisakan luka. Namun luka itu bukan jenis yang melumpuhkan. Ia adalah perih yang produktif, dengan satu syarat: kita benar-benar belajar darinya.
Malam itu, futsal Indonesia belajar bahwa mereka bisa bersaing, bahwa mental mereka cukup, dan bahwa jarak dengan elite Asia bukan mitos—melainkan pekerjaan rumah (PR).
Souto menyinggung beberapa PR tersebut, mulai dari buruknya fasilitas akar rumput, pengelolaan liga domestik yang belum optimal, hingga kebutuhan investasi jangka panjang yang konsisten.
Ia bahkan sempat bergurau bahwa seluruh dunia mendukung Indonesia malam itu, kecuali satu negara bernama Iran. Sebuah guyonan ringan yang menyimpan makna dalam: dunia selalu menyukai kisah underdog yang bekerja keras, diam-diam, dan tidak terlalu banyak bicara.
Peringkat kedua Asia adalah pencapaian terbaik futsal Indonesia sepanjang sejarah—sebuah capaian yang entah kapan bisa disamai oleh sepak bola lapangan yang jauh lebih besar dan gemuk secara ekosistem.
Dari sini, keberhasilan timnas futsal menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan tak nyaman: mengapa ekosistem yang lebih kecil, lebih senyap, dan lebih jarang dipolitisasi justru mampu melangkah lebih jauh? Apa yang salah dengan ekosistem sepak bola lapangan yang selalu merasa “menuju”, tapi tak kunjung “tiba”?
Sejarah juara memang belum ditorehkan Israr Megantara dan kawan-kawan. Namun justru dari kekalahan adu penalti yang menyakitkan itulah, Indonesia belajar pelajaran paling sulit—dalam olahraga dan dalam hidup: kedewasaan bukan tentang menang sekarang, melainkan tentang siap menang nanti.
Sejarah besar memang belum lahir. Tapi ia sudah bergerak. Dan untuk pertama kalinya, futsal Indonesia tahu bahwa mereka tidak sedang bermimpi—melainkan sedang belajar menunggu dengan benar.







