Oleh: Puthy Geni Trie Andini dan Sinta Predika
Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana, Universitas Lancang Kuning
Scroll TikTok lima menit, ketemu tiga video “cuan 50% dalam sebulan”. Buka Instagram, ada reels “saham ini lagi hype, buruan masuk sebelum ketinggalan”. Buka grup Telegram, ada yang share screenshot profit dengan caption “yang belum masuk rugi sendiri”. Buat generasi yang tumbuh besar dengan algoritma, ajakan investasi sekarang datang bukan dari analis fundamental, tapi dari FYP. Dan sialnya, ini membuat banyak investor muda, termasuk Gen Z, akhirnya ikut arus tanpa benar-benar paham apa yang mereka beli.
Fenomena ini bertahan dengan yang terjadi pada euforia saham bank digital pada tahun 2021–2022. Harga melonjak tinggi karena rame dibahas di media sosial, bukan karena laporan keuangan emiten bagus-bagus amat. Investor ritel, banyak di antaranya baru pertama kali investasi, ramai-ramai masuk karena takut ketinggalan momentum. Begitu sentimen berbalik, harga jatuh, dan yang paling telat masuk biasanya yang paling telat sadar. Dalam bahasa manajemen keuangan, ini namanya herd behavior dan FOMO atau Fear of missing out, dua bias psikologis yang jadi bahasan utama behavioral finance.
Bukan karena Gen Z bodoh atau tidak melek finansial. Justru generasi ini paling banyak akses ke informasi keuangan dibandingkan generasi sebelumnya. Masalahnya bukan pada akses informasi, tapi pada kecepatan dan bentuk informasinya. Konten finansial di media sosial dirancang untuk dikonsumsi dengan cepat, singkat, dan emosional. Nggak ada yang bikin konten cara baca laporan arus kas emiten jadi viral, tapi cuan dua kali lipat dalam seminggu mudah banget nyangkut di FYP.
Kondisi ini membuat bias-bias psikologis di behavioral finance kerja lebih efektif. Overconfident bias muncul karena merasa sudah cukup melakukan penelitian hanya dengan menonton beberapa video rekomendasi. Penahan muncul saat investor terfokus pada harga yang disebut si pembuat konten, itu seolah-olah sesuai dengan tujuan.
Dan disposition effect membuat banyak yang menahan saham rugi kelamaan karena gengsi mengakui salah pilih, sementara buru-buru jual saham untung karena takut cuan hilang. Semua bias ini sebenarnya sudah lama dipelajari dalam teori keuangan keperilakuan, cuma sekarang medannya pindah dari lantai bursa ke linimasa media sosial.
Gampang aja nyalahin influencer atau algoritma. Namun behavioral finance justru mengingatkan kita bahwa akar permasalahan ada di cara otak manusia mengambil keputusan finansial, bukan hanya di platformnya. Media sosial cuma mempercepat dan memperbesar bias yang memang sudah ada dari dulu. Bedanya, dulu perilaku kawanan memerlukan waktu berminggu-minggu untuk menyebar melalui obrolan warung kopi. Sekarang, cukup satu video viral, sentimen pasar bisa berubah dalam hitungan jam.
Ini yang bikin literasi keuangan buat Gen Z nggak bisa cuma berhenti di tahu cara buka rekening saham atau paham istilah bullish-bearish. Yang lebih penting justru kesadaran akan bias pada diri sendiri. Sadar bahwa dorongan untuk buru-buru beli setelah melihat konten viral itu adalah FOMO yang perlu direm, bukan sinyal investasi yang valid. Sadar bahwa merasa paling update karena rajin menonton konten finansial itu bukan jaminan keputusan investasinya benar.
Bukan berarti Gen Z harus antisosial media atau anti terhadap pendidikan finansial online, karena justru banyak juga konten yang berkualitas dan mencerahkan. Yang perlu diubah adalah cara konsumsinya. Sebelum ikut beli aset karena viral, cek dulu fundamentalnya, bukan cuma testimoninya.
Kasih jeda waktu sebelum mengambil keputusan, karena keputusan yang diambil dalam kondisi terburu-buru dan emosional biasanya justru keputusan yang paling mudah salah. Diversifikasi juga menjadi kunci, karena sistem yang dirancang dengan baik dapat membantu menahan dorongan impulsif yang muncul dari bias psikologis.
Behavioral finance mengajarkan bahwa pasar tidak digerakkan oleh angka-angka semata, tetapi juga oleh psikologi kolektif orang-orang yang bertransaksi di dalamnya.
Dan di era di mana FYP bisa menggerakkan harga saham secepat itu, memahami bias diri sendiri bukan lagi sekedar teori di kelas manajemen keuangan, tapi skill bertahan hidup finansial membuat generasi yang tumbuh besar dengan notifikasi dan algoritma. (*)








