
Celahkotanews.com || Dumai – Sejenak kita berjalan menuju kesudut jauh di ataslagit biru di bawah kaki hutan kelurahan tanjung penyembal kecamtan sungai Sembilan kota dumai.meskipun berda jauh di sudut kaki hutan yang berlahan gambut dengan hamparan tanah yang begitulausa tubugan dan tanaman cabe yeng menghujau dan memrah menyala megoda siapa saja untuk berkunjug kelahan pertanian cabai merah.
Meskipun tidak semudah yang kita bayang untuk menuju kelokasi tersebut harus menempuh perjalan di temanai rindang pepohonan kelapa saiwit dari jauh telah kelihatan cekatan tangan para ibu –ibu pemetik cabe dengan wajah yang dibedakki dengan bedak dingin dengan ramah mereka menyapa saat tim celahkotanews.com berkunjung kekebun kelompok tani mereka.

Sejauh ini juga kota dumai dengan meiliki luas 1727 km persegi ini memeiliki hamparan lahan yang masih bayank belum tergarap dengan rapi,sejauh itu juga banyak di antara mereka ragu untuk bercocok tanam karena lahan di kota dumai ini sebagian besar berlahan gambut,namun tidak dengan kelompok tani lestari yang berada di kelurahan tanjung penyembal ini mereka berhasil membuktikan lahan gambut bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dari hasil bertani cabe,bahkan salah seorang pemilik kebuh cabe sudah berhasil menggaji delapan belas orang anggota untuk masa panen sebagai pemetik cabe mereka adalah kaum ibu-ibu yang cekatan dengan lentik jari manis satu persatu buah yang berwarna merah dan hijau ini masuk kedalam keranjang siap untuk di jual keberbagai kota yang ada di riau.
Setakad ini juga terbukti kualitas cabai merah Dumai tidak kalah dengan cabai yang masuk dari daerah lain. Keberhasilan para petani cabe dengan kelompok tani lestari menjadi contoh dan panutan bagi kelompok tani lainnya untuk menanam cabai merah.
Salah seorang petani cabe yang tergabung dalam kelompok tani tani lestari kelurahan tanjung penyembal kepada celahkotanews.com mengatakan dengan luas lahan lebih kurang 1,5 haktar yang ia miliki dapat menghasilkan ratusan juta rupiah dengan masa panen sebanyak 15 kali panen setiap kali musim tanam dan dapat memperkerjakan 18 orang anggota sebagai pemetik cabe.
Selain itu juga dari tangan –tangan para pemitik cabe ini pemilik lahan mengaji mereka sebesar Rp 80,000 ribu rupiah perharinya,dari hasil ini juga para pemetik cabe tentunya merasa terbantu sebagai sumber ekonomi keluraga.
Pencapain para petani cabe ini patut di apresiasi dilahan yang bergambut mereka sukses membuktikan apa yang telah di ragukan,keuletan,kecermatan serta ketelitian mereka akhirnya berbuah manis meskipun rasa cabe itu pedas namun pundi-pundi rupiah berhasil mereka raup.(ckn)
Editor : ckn
Penulis : Khairul iwa







3 komentar