Berita Terbaru Celah Kota Lingkungan

Pengembangan Bandara Pinang kampai Dumai Terkendala Lahan dan Anggaran

bandara

CELAHKOTANEWS.COM||DUMAI – Belum ada kejelasan mengenai asset dan peralatan sarana dan prasarana yang ada di Bandar Udara Pinang Kampai .

Berdasarkan peraturan Direktru Jenderal Perhubungan Udara No. KP 21 Tahun 2015 tentang pedoman Teknis OPerasional Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil sesuai pasal 4 disesuaikan “ setiap personel Bandar Udaran yang terkait langsung dengan pelaksanaan pengoperasian dan/atau pemeliharaan Bandar Udara wajib memilki lisensi yang sah dan/atau rating yang masih berlaku “.

Dijelaskan pesonil Bandara yang tidak memiliki lisensi terancam sanksi administrative maupun pidana. Sanksi pidana bagu personel yang mengoperasikan atau memelihara fasilitas Bandara tanpa memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi di pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak dua ratus juta rupiah. Jika personel Bandara tidak ada lisensi tersebut menyebabkan matinya seseorang , diancam pidana penjara paling lama lia belas tahun atau denda paling banyak satu milyar rupiah .
Kepala Bandara Pinang Kampai Kota Dumai Catur Hargowo,kepada celahkotanews.com menjelaskan secara rinci terkait pengembangan bandra tersebut serta kendala yang di hadapi.

“Ada beberapa peralatan sarana dan prasarana di Bandar Udara Pinang kampai yang bersifat Menadatory dan Vital , seperti kendaraan PKP- PK ( Milik Bandar Udara Japura Rengat ) , X-RAY ( Milik PT.CPI ) , Peralatan Penunjang GSE ( Miliki PT. Pelita Air Service ) , untuk sementara ini diperbantukan guna menunjang Kegiatan penerbangan di Bandar Udara Pinang Kampai Dumai . Kendala yang dihadapi apabila suatu saat peralatan yang dimaksud ditarik kembali atau dalam penggunaa mengalami kerusakan maka pihak Bandar Udara bertanggung jawab terhadap pengoperasian Bandar Udara tersebut akan tetapi dalam penganggaran nya mengalami kesulitan dikarenakan Bukan merupakan asset Pemerintah Kota Dumai.”Jelas catur (16/09/16).

Selain itu juga menurut catur Keterbatasan panjang landasan ( Run away ) mempengaruhi jenis mdan tipe pesawat yang mendarati Banadar Udara Pinang kampai Dumai sehingga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya harga tiket.

“Keterbatasan anggran yang dimiliki oleh Dinas Perhubungan , sangat sulit untuk untuk dapat meningkatkan kompetensi personel yang wajib dipenuhi dalam pengelolaan Bandar Udara . Apabila tidak segera memenuhi peraturan diatas maka yang dikenakan sanksi adalah personel yang bekerja di Bandar Udara dan keberadaan Bandar Udara teranam akan ditutup.

Pemerintah Kota Dumai Terkesan seolah olah tidak peduli terhdapa peraturan peraturan yang berlaku di Bandar Udara dan hanya mementingkan persoalan mahalnya harga tiket yang berlaku tanpa ada upaya untuk melakukan pengadaan sarana dan prasarana yang bersifat Mandatory serta tidak berupaya melakukan pengalihan aset atau Lahan Bandar Udara.”ungkap catur.

Ditegaskan lagi oleh Catur hargowo “Dengan adanya instruksi Menteri No .9 Tahun 2016 tentang penunjujkan penanggung jawab Tunggal ( Single Accountable ) operasional di Bandar Udara semakin memberatkan tanggung jawab kepala Bandar udara dalam hal pengoperasian dan pengelolaan . apabila hal tersebut diatas diabaikan oleh Pemerintah Kota Dumai. Menyediakan anggaran untuk peningkatan Sumber daya Manusia dalam pemenuhan Peraturan yang berlaku dan menghindari sanksi yang akan diberlakukan kepada personel.

Mengupayakan segera mengenai status lahan dan perlu dipermasalahkan mengenai Pertamina Diatas lahan konsesi yang dipergunakan oleh PT.CPI . Pemberlakuan surat tanah tersebut berlaku hingga tahun 2027 masa berakhir surat tanah dengan kepemilikan PT.Pertamina untuk dapat dipercepat mengigat resiko terhadap kegiatan operasional Bandar Udara yang sangat mendesak untuk dapat diperhatikan.” Tutup Catur.(ckn/wan)

Related posts

Pemilihan Kepala Daerah Serentak Terkendala Dana, Termasuk Indragiri Hulu

Celahkotanews

KPU ‘ Sasar ‘ Pemiilih Disabilitas dan Napi Sosialisasi Pilgub

Celahkotanews

Pasang Keling Datang Lagi

Celahkotanews

Leave a Comment