CelahkotaNews.com || DUMAI-Maraknya tindakan kriminal yang dialami anak usia sekolah membuat para orangtua kian khawatir dan was-was. Kondisi ini seharusnya bisa menjadi perhatian semua pihak, khususnya orangtua dan guru.
Karena itu, pendampingan orang tua dan guru terhadap anak sangat diperlukan, sehingga dapat mencegah terjadinya tindakan kriminal dan menyimpang yang dialami anak-anak, khususnya ketika anak masih berada di sekolah, sebut Kementerian PPA Pusat Annisa ketika mengisi Workshop disiplin positif dalam kekerasan di Hotel Grand Zuri, Senin(20/11) kemarin
“Kondisi sekarang memang semakin miris. Bahkan ada anak usia sekolah menjadi korban tindakan kriminal dan asusila, akibatnya ada yang sampai hamil atau masuk penjara. Karena itu, pendampingan orangtua dan guru sangat diperlukan, agar anak-anak dapat terhindar dari prilaku menyimpang tersebut,” ucapnya
Guru dan orangtua berperan sangat penting dalam mengawasi anak. Kalau gagal pengasuhan dirumah maka guru disekolahlah yang dapat memberikan perhatian kepada anak secara lebih bukan malah anak tersebut bully atau di kucilkan karena anak anak rentan dan sensitif , mereka butuh mendapatkan perlindungan.
Apalagi dia menyebut penyebab kekerasan pada anak itu banyak terjadi disekolah dan paling tinggi diakibatkan faktor aksi bulliying.Bahkan Guru dan petugas pendidikan terbanyak melakukan kekerasan, kemudian 50 persen kekerasan buliying.
“ribuan kasus kekerasan fisik, psikis, dan seksual terhadap anak setiap tahunnya. Indonesia memiliki sejumlah peraturan yang melindungi anak- anak dari tindak kekerasan. Namun, penerapan hukum masih mengalami berbagai kendala dan belum optimal.”
Persoalan lainnya banyak juga guru yang membedakan anak yang pintar dengan kurang mampu ,perbedaan agama, disabilitas, antara kaya dan Miskin. Maka itu saya sangat berharap peranan dari orangtua itu sendiri untuk lebih memperhatikan perkembangan prilaku anak dan juga peranan guru disekolah.Semoga Dumai dapat menjadi contoh kota layak anak.(ckn)
Penulis : Depie
Editor : Khairul iwan







2 komentar