Berita Terbaru Celoteh Pak Usu

Mengapa Susah Untuk Jujur?

Sadarkah, jangan-jangan kita sendiri yang menyebabkan ketidakjujuran orang lain, sehingga lahir kalimat seperti ini,”Saya tidak berbohong, tetapi hanya mengatakan apa yang orang lain senang dengar!”

– Kejujuran adalah barang langka pada jaman sekarang. Begitu juga sering kita dengar dan baca. Mengapa sampai ada kalimat seperti tersebut di atas?

Karena dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, begitu sulitnya8 kita bisa menemukan orang yang jujur. Kebohongan begitu mudahnya ditemukan ada di sana-sini. Padahal kita hidup di negeri yang beragama dan ber-Tuhan.

Dimana kita diajarkan untuk menghindari kebohongan dan harus bersikap jujur, karena selalu ada malaikat yang mencatat setiap perbuatan kita. Tetapi kenyataannya, semakin hari semakin sulit untuk menemukan orang jujur di sekitar kita.

Menurut saya adalah beberapa penyebab yang membuat kebohongan semakin merajalela di sekitar kita.

KEJUJURAN TIDAK DIHARGAI

Terkadang kita terpaksa harus berbohong karena kejujuran tidak dihargai oleh lingkungan kita. Bahkan pada dunia pendidikan dimana seharusnya kejujuran ditegakkan, justru hal itu tidak terbukti. Begitu juga dalam keluarga, dimana kejujuran seorang anak, bukannya mendapatkan penghargaan, tetapi malahan menerima balasan kemarahan dan hukuman dari para orangtua.

Kejujuran tidak dihargai, sebaliknya kebohongan lebih mendapatkan apresiasi.

Ini sedikit bukti kecil yang saya alami sendiri dan masih membekas sampai kini. Ketika saya terlambat datang ke sekolah bersama beberapa teman, dimana untuk bisa masuk ke kelas harus mendapat surat dispensasi.

Dengan alasan macet, semua teman saya diberikan surat dispensasi. Tetapi saat saya memberikan alasan yang sebenarnya karena bangun kesiangan, justru saya diceramahi _tepatnya didamprat guru yang bertugas_ dan saya tidak diberikan surat dispensasi untuk mengikuti pelajaran. Mengingat kejadian itu, saya jadi tertawa sendiri. Begitulah dunia ini lebih menghargai kebohongan daripada kejujuran. Demikian kemudian kebohongan mengisi dunia ini.

KEBOHONGAN MENDATANGKAN RASA AMAN

Mengapa orang-orang berlomba untuk berbohong dan sulit mengatakan hal yang jujur?

Karena lingkungan memberikan rasa aman kepada kebohongan, sedangkan kejujuran menimbulkan masalah. Kebohongan lebih mendatangkan teman, sebaliknya kejujuran menciptakan permusuhan.

Kebohongan menghindari kita dari hukuman, sedangkan kejujuran seringkali justru membuat kita kena hukuman. Kebohongan lebih mendatangkan keuntungan, sedangkan kejujuran menimbulkan kerugian.

Bila demikian, sepertinya orang akhirnya lebih memilih hidup dalam kebohongan. Walaupun itu hanya mendatangkan rasa aman dan nyaman untuk sementara saja.

DIAJARKAN UNTUK BERBOHONG SEJAK KECIL TANPA DISADARI

“Bilang papa/mama tidak ada ya, nak, kalau ada yang cari!”

Itulah pelajaran kebohongan kecil yang paling sering diajarkan para orangtua tanpa disadari yang berdampak sangat besar di kemudian hari. Sekali dua kali, sehingga kemudian menjadi terlatih dan fasih untuk berbohong. Lalu menjadi karakter di kemudian hari.

Bila demikian, kejujuran memang menjadi barang langka, karena kebohongan sudah biasa dilakukan dan dianggap tidak apa-apa.

BERBOHONG KARENA ITU YANG INGIN DIDENGAR ORANG

Dunia telah membuat telinga kita lebih senang mendengar kebohongan. Kebohongan membuat senyum kita mengembang. Kebohongan lebih mendapatkan pujian dan hadiah.

Sebaliknya kejujuran membuat kita menjadi marah dan tidak berkenan. Kejujuran dianggap sebagai penghinaan.

Demikianlah kemudian manusia belajar dari pengalaman. Bahwa orang-orang lebih senang mendengar kebohongan, sehingga ia mulai mempraktekkan untuk mengatakan apa saja yang senang didengar orang. Padahal semua itu adalah kebohongan.

KESIMPULAN

Dari catatan di atas, saya sedikit dapat menyimpulkan, seharusnya kita mulai untuk belajar menghargai kejujuran. Berikan penghargaan saat ada yang berlaku jujur, walaupun apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bodoh.

Belajar untuk tidak mentolerir kebohongan, tetapi berikan hukuman yang setimpal. Walaupun terkadang hal itu menyakitkan. Terkadang rasa kasihan justru melahirkan kebohongan berikutnya.

Tidak lagi ada pelajaran kebohongan mulai dari diri kita kepada anak-anak. Selanjutnya belajarlah untuk mendengar kejujuran dan hargai. Tidak terbuai mendengar kebohongan, tetapi abaikan mereka. Semoga tulisan ini tida berisi kebohongan belaka.

Mengapa orang-orang berlomba untuk berbohong dan sulit mengatakan hal yang jujur?

Karena lingkungan memberikan rasa aman kepada kebohongan, sedangkan kejujuran menimbulkan masalah. Kebohongan lebih mendatangkan teman, sebaliknya kejujuran menciptakan permusuhan.

Kebohongan menghindari kita dari hukuman, sedangkan kejujuran seringkali justru membuat kita kena hukuman. Kebohongan lebih mendatangkan keuntungan, sedangkan kejujuran menimbulkan kerugian.

Bila demikian, sepertinya orang akhirnya lebih memilih hidup dalam kebohongan. Walaupun itu hanya mendatangkan rasa aman dan nyaman untuk sementara saja.

DIAJARKAN UNTUK BERBOHONG SEJAK KECIL TANPA DISADARI

“Bilang papa/mama tidak ada ya, nak, kalau ada yang cari!”

Itulah pelajaran kebohongan kecil yang paling sering diajarkan para orangtua tanpa disadari yang berdampak sangat besar di kemudian hari. Sekali dua kali, sehingga kemudian menjadi terlatih dan fasih untuk berbohong. Lalu menjadi karakter di kemudian hari.

Bila demikian, kejujuran memang menjadi barang langka, karena kebohongan sudah biasa dilakukan dan dianggap tidak apa-apa.

BERBOHONG KARENA ITU YANG INGIN DIDENGAR ORANG

Dunia telah membuat telinga kita lebih senang mendengar kebohongan. Kebohongan membuat senyum kita mengembang. Kebohongan lebih mendapatkan pujian dan hadiah.

Sebaliknya kejujuran membuat kita menjadi marah dan tidak berkenan. Kejujuran dianggap sebagai penghinaa.

Demikianlah kemudian manusia belajar dari pengalaman. Bahwa orang-orang lebih senang mendengar kebohongan, sehingga ia mulai mempraktekkan untuk mengatakan apa saja yang senang didengar orang. Padahal semua itu adalah kebohongan.

KESIMPULAN

Dari catatan di atas, saya sedikit dapat menyimpulkan, seharusnya kita mulai untuk belajar menghargai kejujuran. Berikan penghargaan saat ada yang berlaku jujur, walaupun apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bodoh.

Belajar untuk tidak mentolerir kebohongan, tetapi berikan hukuman yang setimpal. Walaupun terkadang hal itu menyakitkan. Terkadang rasa kasihan justru melahirkan kebohongan berikutnya.

Tidak lagi ada pelajaran kebohongan mulai dari diri kita kepada anak-anak. Selanjutnya belajarlah untuk mendengar kejujuran dan hargai. Tidak terbuai mendengar kebohongan, tetapi abaikan mereka. Semoga tulisan ini tida berisi kebohongan belaka.

Sumber : Kompasiana.com




Related posts

Menkumham: Reformasi Birokrasi Digital Suatu Keniscayaan

Ckn

Pendidikan Masih Kekurangan 200 RKB

Celahkotanews

  Pemko dumai melalui disdukcapil dumai akan mencetak kartu identitas anak setelah pengesahan apbd p 2016

Celahkotanews

Leave a Comment