CelahkotaNEWS.com || Jika kita berani untuk kembali ke belakang dan melihat kenyataan, masyarakat sangat kecewa karena diberi harapan palsu.
Politik yang diisi dengan janji yang mengarah kepada kebohongan. Hal ini menjadi catatan penting untuk para aktor.Apa gunanya berteriak jika hanya untuk menyebarkan kebohongan?
Janji
Politik dan janji memang tidak dapat dipisahkan, mereka adalah sepasang “suami-istri” yang tak dapat dipisahkan. Boleh dikatakan, tidak ada politik tanpa janji.
Pertanyaannya, janji yang mana? Pertanyan ini penting karena tidak semua janji membawa kemajuan (progresif) dalam demokrasi. Persoalnnya bukan terletak pada ada atau tidaknya janji melainkan kualitas janji atau dikenal dengan sebutan politik praktis.
Masyarakat membutuhkan kerja nyata dari seorang pemimpin, sekali bicara langsung bertindak atau kalau boleh tutup mulut dan bekerja.
Kebohongan
Kebohongan berawal dari janji yang tidak tepat. Inilah janji yang tidak berkualitas. Para aktor yang memberikan janji kepada masyarakat ibarat “balon udara”, menarik perhatian banyak orang, indah, elok, dan suara angin yang membawa dia ke udara sangat enak didengar tetapi sifatnya sementara karena sebentar lagi dia akan pecah dan menghilang.
Tepati Janji
Ingkar janji membuat orang kecewa terhadap demokrasi, tanpa janji menggiring orang dalam jurang otoritanisme. Janji adalah hakekat sebuah visi dalam berpolitik.
Dengan demikian janji sejalan dengan politik tetapi tidak untuk menyebarkan kebohongan. Harus realistis. Karena itu tawarannya ialah; pertama, implementasi. Janji adalah harapan dan cita-cita yang diidealkan para aktor tetapi haruslah diwujudnyatakan. Bukan idealis semata, yang patut dipertanyakan adalah pembuktiannya.
Namun, semanis apapun sebuah janji politik, tentu tidak pula lepas dari kepentingan orang yang mengucapkan janji tersebut akhir-akhir ini mulai masuk ke pelosok-pelosok kampung untuk memperkenalkan diri sembari memberikan janji.
Sumber :Berbagai sumber
Foto : ilustrasi@internet








1 komentar