Berita Terbaru Celoteh Pak Usu

Jangan Diangap Kampung Kami Tak Bertuan

celahkotaNEWS.com || Suatu hari aku pernah berkata pada dunia bahwa aku tak ingin duduk diantara pilihan-pilihan yang membuat aku terlena karena aku takut mendustakan Sang Pencipta.

Akupun tak ingin mengikuti kata hati,yang terbuai akan kememewah dunia,cukup bagiku kesederhanaan, menghargai sesama dan mencintai Sang Pencipta melebihi cintanya kepadaku.

Negeriku kini seperti tak bertuan,apa ia benar atau sekedar halusinasiku saja?
Kubiarkan saja waktu yang bercerita tentang perasaanku ini,namun sampai kapan harus aku biarkan,apakah menunggu rumah-rumah saudara-saudaraku tergusur oleh serakah berdirinya tanki-tanki timbuh penampung CPO,ooh tidak.

Kembali aku bertanya didalam hati dan kepadanya (siapa..?) agar tak ada dusta diantara waktu yang luang,saat tangan,mata,hati dan bibir kini tak lagi mampu,mengapai,melihat dusta yang berbicara.

Akupun tak ingin mendengar cerita tentang kebaikan akan janji-janji manis sang calon-calon pemimpin negeri ini yang hanya bisa memberi bujuk dan rayu sehinga membuat mereka klepek-klepek lemas terkulai bak batang keladi (talas) penuh pengharapan yang tiada pasti.

Wahai kampungku negeri Puteri Tujuh negeri Seribu Pelabuhan, biarlah waktu yang bercerita tentang kita, tentang rindu yang kau dan aku adukan selama ini kepada sang pemilik negeri ini karena waktu tak pernah mendustai kita semua.

Hmmmm letih dan lelah memikirkan yang tiada usai,sebuah cerita yang tiada berpenghujung,namanya saja Kota Industri,namanya saja Kota Pelabuhan,tapi negeri ini seperti tidak bertuah ibaarat pepatah mengatakan bagai ayam mati di lumbung padi.

Manusia, diciptakan dengan potensi yang sangat besar. Hasil yang akan di dapat pun bergantung dengan sejauh mana potensi itu bisa diolah, diasah, dan dimanfaatkan. Kesempatan, berguna sebagai fasilitas yang ada untuk mengolah, mengasah dan memanfaatkan potensi manusia yang begitu besar tadi. Kesempatan biasanya bergantung pada lingkungan dimana manusia tersebut hidup.

Kemarin adalah mimpi yang telah berlalu,esok hari adalah cita-cita indah yang akan kita raih,sebuah harapan bisa menjadi nyata Ketika percaya bahwa hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.

Ooh negeri ku negeri penjerang minyak,obor mu menyala menjilat kerak – kerak langir,obor mu mengelegar seolah engkaulah yang perkasa,tiang -tiang penyanga mu keras dan kuat tanpa engaku sadari di sekeliling mu masih banyak rumah-rumah peot labuk di makan rayap.

Pohon Bakau hijau itu masih tumbuh tegak buahnya menjuntai memghadap pantai. Batangnya keras akar-akarnya timbul daunya semakin hari semakin rimbun meskipun beberapa dahan sudah rapuh. Di bawah pohon itulah Dua puluh tahun lalu terdapat sebuah warung kopi, yang kini hanya tinggal bekas kulit batang bekas terbakar yang dulu mungkin tempat daour anglo penjerang air. Masih tergiang jelas dibenak ingatan bahwa pemilik warung memiliki anak gadis yang berlesung pipit tinggi semapai berparas cantik tak heran sesekali ia mengantarkan secangkir kopi yang telah disedu dengan air panas hmmmm namun kini hanya tinggal kenangan.

Tahukah kalau masih ada kesempatan untuk kita Karena obor -obor penjerang minyak itu masih menyala. Asap – asap hitam dari kawasan industri itu masih mengepul membumbung tinggi terbang keawan. Kita hanya perlu bangkit dari tidur nyenyak dan kita juga perlu menyalakan api,dan membiarkannya bersinar dan membakar keangkuhan mereka.

Ingin terbang tinggi menuju awan,itu hanya hayalan,bagai mana mungkin dan bagai mana bisa terbang tinggi mengunakan sayap yang rapuh akan rapuh hintam Asap-asap yang berterbangan, Kebisingan menguncang bumi pun ikut memanas Dimana udara yang rindu tak lagi segar karena di terbangi debu-debu hasil pengapalan di bergai pelabuhan,jangan berharapuntuk sejuk karena Dimana sejuk yang kita tunggu mungkin semua itu telah hilang,karena bakau-bakau pun hampir semakin punah ranah,ingat kampung ini masih punya penghuni.

Tempat Kami bermain Bola
Dulu lapangan atau padang itu tempat kami bermain bola sungai itu tempat kami berenang pelabuhan itu tempat kami mengail ikan kitang,kina lampangan itu menjadi tempat penimbunan pasir,kerikil,koral dan kini sebagai tempat memuat limbah.

Penjala udang pun harus bertaruh nyawa menantang bebatuan yang kini tersusun rapai tak heran ada pula batu batu besar yang runcing dan tajam yang siap mengintai kaki-kaki para penjala,oh malangnya kampung ku ini.

Pelabuhan yang dulu tempat memancing ikan kitang kini berubah menjadi tempat memuat CPO dan turunan lainya,deru bising mesin-mesin industri menghilangkan ingatan akan keindaan lingkungan di masa dulu.

Hei..penguasa negeri Puteri Tujuh bangunlan dari tidur panjangmu.(ckn)

Penulis : Khairul iwan
Suber : Berbagai Sumber
Foto : CKN

Related posts

Kantor Pelayanan Pasar Sumbang PAD Rp 715 Juta Pertahun

Celahkotanews

Maverick Vinales Raih Podium Perdana Di Moto GP Belanda

Ckn

Gasing Merupakan Permainan Masyarakat Malayu, Advetorial : Atraksi Budaya Kota Dumai

Celahkotanews

Leave a Comment