
Celahkotanews.com || Dumai -Festival lampu colok merupakan tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Dumai, selain itu hal ini ad ada suatu nilai yang tersembunyi didalam pelaksanaan menghias kampung setiap bulan Ramadhan tersebut.
Lampu colok atau disebut lampu teplok didaerah lain ini menjadi indah disaat ratusan hingga ribuan disusun rapi berbentuk Masjid melalui kayu atau buluh yang sudah dibentuk menjadi pola.
Tradisi menghias dan menerangkan kampung kawasan di Dumai masih bertahan di kota Dumai meski alat penerangan yang lebih baik seperti lampu listrik sudah lama ada dikota pelabuhan ini.
Malam 27 likur lampu colok tersebut memiliki nilai menyatukan warga yang berada disetiap daerah pelaksanaan tersebut.
Namun pekerjaan menghiasi Tradisi ini tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja, mulai dari membersihkan botol untuk dijadikan lampu colok hingga membentuk pola harus dilakukan dengan kekompakan dwngan swksama antar pemuda dan warga, sehingga hasilnya menjadi menarik dan indah.
Gemerlap lampu colok mengingatkan kita beta indahnya kedamaian,kebersamaan permerstauan pikiran menjadi satu pola ke indahan sehinga mejasi nilai seni dan tradisi turun temurun.
Tradisi 7 likur sebenarnya adalah merupakan tradisi yang dilakukan sejak masa lalu secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu dengan melakukan penyalaan lampu/penerangan tradisional yang ditempatkan disekitar masjid, diberbagai penjuru jalan, halaman rumah dan teras-teras rumah penduduk. Pada malam puncak pelaksanaan malam 7 likur yaitu tepatnya pada malam 27 Ramadhan pada masa lalu pelaksanaannya dilengkapi dengan berbagai kegiatan oleh masyarakat diantaranya dengan saling mengunjungi ke rumah-rumah penduduk dan dihidangkan makanan/kue tradisional dan diakhiri dengan mendoakan agar keluarga yang didatangi memperoleh limpahan rahmat, pahala dan rezeki. Hal itu dilakukan bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya selama malam 27 Ramadhan tersebut.
Dan hal itu dilaksanakan pada akhir Ramadhan menjelang datangnya idul fitri. Pelaksanaan perayaan malam terakhir Ramadhan bukan sebatas symbol budaya bagi masyarakat Melayu, tetapi lebih luas yaitu dalam rangka menyambut datangnya malam seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar.
Pelaksanaan malam 7 likur masih dapat kita rasakan dan masih meninggalkan sedikit nuansa Islami dan budaya Melayu yang mengikat kehidupan masyarakatnya. Pelaksanaan malam 7 likur tidak sebatas perayaan malam akhir Ramadhan, tetapi nuansa dan suasana Ramadhan dapat dirasakan sejak awal datangnya bulan suci Ramadhan.
Keberadaan tradiai lompu colok di kota sumai hingga kini maaih daoat sinikmati oleh masyarakat luas,gemeelap hiaaan dan ornamenya masih dapt dilihat si berbagai celahkota pelabuhan ini,semoga trasini tak usang dimakan waktu. (Ckn)
Penulis :khairul iwan
Editor :Ckn
Sumber : Berbagai sumber








5 comments