
Celahkotanews.com || Pekanbaru – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Ismet Inono mengatakan bahwa masyarakat daerah setempat harus bisa memanfaatkan peluang dalam menciptakan sebuah usaha.
“Selama ini masyarakat terlalu bergantung pada sawit dalam meningkatkan perekonomiannya, padahal bisa dengan menjadi enterpreneur, dengan menciptakan produk sendiri,” katanya saat menjadi narasumber di Festival Industri Kreatif Riau tahun 2016, Sabtu.
Bahkan petani sebutnya masih sering kali menjadikan kondisi tanah gambut sebagai alasan untuk tidak bisa bercocok tanam selain sawit.
Dia mengatakan, pola pikir itu harus segera diubah. Banyak hal bisa dilakukan jika mencoba sesuatu baru seperti memulainya menjadi pengusaha muda dengan memanfaatkan peluang di era globalisasi ini atau misalnya seperti yang dilakukan Suryono, yang berpindah dari petani sawit ke holtikultura di kabupaten Siak.
“Kuncinya jangan pernah menyerah dan terus berusaha, jika ingin sukses,” ucapnya dengan semangat.
Dalam seminar bertemakan “Jadikan Industri Kreatif Penopang Perekonomian” itu Ismed mengajak generasi muda untuk bisa menjadi enterpreneur dan memanfaatkan momentum Festival Industri Kreatif Riau.
Dia sebutkan, jika sebelumnya tingkat pertumbuhan ekonomi Riau pernah menduduki peringkat pertama di Sumatera, kini menjadi tingkat terbawah.
Sementara itu Direktur LKBN Antara Aat Safaat menyebutkan bahwa kantor berita Antara bekerjasama dengan Bank Indonesia mencoba memanfaatkan peluang. Ini juga merupakan wujud peduli Antara kepada pelaku industri atau UMKM.
“Kami LKBN Antara mencoba menarik pelaku-pelaku industri kreatif dan membantunya agar produk mereka bisa terpromosikan lewat Festival Industri Kreatif Riau,” ucap Direktur Pemberitaan LKBN Antara Aat Safaat.
Provinsi Riau selalu diidentikkan dengan daerah kaya sumber daya alam. Namun seiring berjalannya waktu, SDA tak dapat lagi diandalkan. Satu-satunya potensi yang harus diberdayakan adalah potensi manusia itu sendiri. Dengan memaksimalkan potensi manusia, maka manusia dengan sendirinya akan berkreasi dan menciptakan.
Pemerintah Indonesia beberapa tahun ini juga sudah menyadari hal itu. Sebegai tindaklanjut, pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf kalla dibentuklah Badan Ekonomi Kreatif. Badan ini fokus pada pengembangan sektor-sektor industri kreatif yang saat in berjumlah 16. Diantaranya aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio.
Di Riau, sebagian besar sub sektor itu telah terlihat, namun masih sulit dilihat bagaimana pemetaannya. “Oleh karena itulah LKBN Kantor Berita Antara dalam rangka Hari Ulang Tahun yang ke-79 dan telah berdiri sejak 13 Desember 1937 tertantang untuk mengumpulkan sub sektor industri kreatif tersebut dalam Festival Industri Kreatif Riau 2016,” ungkapnya.
Berdasarkan pendaftaran yang masuk ke panitia terlihat beberapa subsektor yang mendominasi dan ada juga subsektor yang tidak mendaftar sama sekali. Rinciannya dari yang diikutkan paling banyak dari kerajinan 32 peserta, kuliner 25 peserta, fesyen 14 peserta, Fotografi dan Desain Komunikasi Visual 8 peserta,, Musik 4 peserta, Aplikasi dan Game 2 Peserta, dan Video Animasi, film dan Seni Pertunjukan masing-masing 1 Peserta.
Terdapat hanya 10 subsektor industri kreatif yang mendaftar dengan tiga besar yaitu kerajinan, kuliner, dan fesyen. Mendaftar dalam jumlah kecil Fotografi Desain Komunikasi Visual, Musik, Seni Pertunjukan, Aplikasi dan Games, serta film video animasi. Sedangkan untuk subsektor arsitektur dan desain interior, desain produk, penerbitan, periklanan, seni rupa, televisi dan radio tidak ada sama sekali.(ckn/ant)
Sumber : Antarariau.com







5 komentar