Sisi Kehidupan : Lampu Pelita sebagai alat Penerang di kala Malam
Celahkotanews.com || Dumai – Hanya sebatas janji manis,Sunguh miris melihat sisi Kehidupan di RT 28 Kelurahan Bukit Datuk Kecamatan Dumai selatan, Persinya di jalan bunga tanjung.
Masyarakat kota dumai mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kata-kata bunga tanjung adalah merupakan perkampungan yang ada di tengah kota dumai masyarakat disekitar hidup layaknya seperti masyarakat biasa lain,namun sangat di sayang selain daerah tersebut tidak tersentuh pembanguan baik infrastruktur jalan maupun yang lainya jauh dari kenyataan,di tambah lagi salah satu dambaan masyarakat sekitar adalah penerangan di malam hari yaitu listrik atau PLN.
Tidak terlalu banyak sebenarnya permintaan masyarakat sekitar hanya saja hari berganti hari minggu berganti bulan hingga tahunan daerah ini tetap seperti kampung tertinggal,hidup di tengah perkotaan namun pada kenyataanya tak ubah seperti kampung tanpa penghuni.
Namun yang lebih mengugah hati ketika anak-anak yang sedang menimba ilmu pendidikan mereka harus mengulang pelajaran yang meraka dapat di sekolah di malam hari atau sebaliknya mengerjakan tugas (PR) pekerjaan rumah di malam hari,namun tak terbayang oleh kita kenyataan itu harus mereka lakukan dengan penerangan seadanya seperti lampu minyak tanah atau pelita sebagai penerang.
Berpedoman pada dasar negara ini yang terkandung dalam sila kelima,keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,sila ini tentunya mempunyai makna yang mengajak masyarakat aktif dalam meberikan sumbangan yang wajar sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing kepada negara demi terwujudnya kesejahteraan umum,yaitu kesejahteraan lahir dan batin selengkap mungkin bagi seluruh rakyat.
Manusia indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan soisial dalam kehidupan masyarakat indonesia.dalam rangka perbuatan ini dikembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap suasana kekelurgaan dan gotongroyong .
untuk itu dikembangkan sikap adil terhdap sesama,menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban,serta menghormati hak-hak orang lain.
Namun sunguh sayang seribu kali sayang,bunga tanjung ini jauh dari harapan masyarakat,jangankan untuk infrastruktur yang memadai penerangan pun mereka harus berjuang untuk mendapatkannya,tak heran jika masyarakat sekitar mengangap bahwa daerah mereka luput dari perhatian.
Neni,salah seorang ibu rumah tangga kepada celahkotanews.com mengatakan bahwa mereka sudah lebih dari lima tahun tinggal di daerah tersebut sama hal seperti masyarakat sekitar tidak ada kata lain permintaan hanya satu penerangan yaitu aliran listrik atau PLN masuk kedaerah mereaka.
“ Hampir lima tahun lebih kami sudah tinggal disini yan beginilah keadaan kehidupan kami disini,kalau malam penerangan kami hanya lampu minyak tanah atau pelita,dan kami berharap pemerintah sadar walau bagaimana pun kami juga masyarakat berhak untuk mendapatkan penerangan listrik,sebenarnya kami sangat miris,sedih melihat anak-anak kami belajar dengan penerangan seadanya tapi kami harus bagaimana..?,”Ujar neni masyarakat bunga tanjung.
Dimas Salah seorang pelajar yang masih duduk di bangku kelas satu SLTP ini saat di jumpai celahkotanews,mengatakan kondisi belajarnya kurang maksimal karena gelap,namun rutinitas belajar tetap harus dilaksakan.
Bunga tanjung RT 28 Kelurahan Bukit Datuk Kecamatan Dumai Selatan memang tidak seratus persenya masyarakat mengalami gelap gulita namun ada juga yang sudah mengunakan penerangan listrik,tapi itu bagi mereka yang berkantong tebal namun tidak sedik pula biaya yang harus mereka keluarkan setiap harinya untuk membeli solar sebagai bahan bakar diesel meraka.
Rian salah seorang masyarakat mengaku harus rela merogoh kacocek dalam dalam demi penerangnan dimalam hari sedikitnya biaya Rp 600 lebih perbulanya harus dikeluarkan untuk membeli solar,selain itu rian menilai bunga tanjung memang jauh tertinggal dari tempat-tempat yang lain dikota dumai selain luput dari perhatian janji manis pun acap meraka terima hanya sebatas janji belaka.
“kami selalu berharap agar jaringan PLN itu sampailah di kampung kami,sebanya anak-anak kami dari dulu sampai sekarang susahnya tak tanggung-tanggung untuk belajar,lintrik kami pakai ini paling kuat sampai jam sebelas (23:00) wib itu biaya perbulanya mencapai Rp 600,”ungkap rian.
Selain itu rian juga sangat menyangkan dengan janji manis yang pernah terlontor kepada masyarakat bunga tanjung,nama bunga tangjung tidak seharum nama nama bunganya.
“sebenarnya kami hidup disini cukup sedih karena Pemerintah tak pernah memperhatikan kami ,macam kami bukan warga indonesia saja,masih dijajah sama Pertamina,”ungkap rian kesal.
Tak sampai disitu rian masyarakat yang telah lama menetap di RT 28 tersebut cukup merasa kecawa setiap ada mau pemilihan baik itu legislatif atau pemilihan lainya meraka datang memberikan janji manis.
“setiap ada mau pemilihan legiskatif dan lainya mereka datang memeberikan janji-janji manis,seperti mau memasukan lampu,namun realisasinya sampai sekarang belum ada hasilnya,” Kata rian.
Rasa kecewa yang telah mendalam,apakah di tengah krisis kepercayaan yang melanda masyarakat bunga tanjug RT 28 Kelurahan Bukit Datuk Kecematan Dumai Selatan tidak membuat mata mereka buta,mata mereka terbuka,masyarakat tidak lagi buta matanya tetap terbuka.(ckn)
Editor : Ckn
Penulis : Khairul Iwan
Komentar ditutup.